Nyesel ga Resign? (Cerita 1 Tahun Pasca Resign)

*Alasan Resign bisa di baca disini disini

Agustus menjadi bulan yang bersejarah karena tepat setahun lalu saya memutar haluan, meninggalkan karir yang sudah mapan untuk menjadi ibu Rumah Tangga plus plus. Sehingga saya merasa, di bulan ini saya harus melihat lagi perjalanan saya 1 tahun kebelakang. Kalau dulu hal ini saya lakukan di awal tahun, but from now on, it would be on August…

Sebelum ada yg bertanya, saya jawab duluan ya… Ibu rumah tangga plus plus hanya istilah saya ajah, karena saat ini saya menggeluti network marketing di bidang Kesehatan dan Kebugaran, online dan offline yg juga menuntut perhatian dan waktu. Keluar rumahnya pagi sekalian nganter anak sekolah, terkadang pulangnya sore dipasin sama jam jemput anak pulang sekolah. Dan karena ga ada jam kerja, dirumah juga msh bisa nyambi kerjaan. Ga heran klo terkadang sibuknya ngalah2in pas kerja dulu… Tapi satu hal, jam kerjanya fleksibel bs saya sesuaikan dengan aktifitas utama saya sebagai seorang Ibu.

Berasa ga berasa, eehh udah berlalu 1 tahun ajah… time flies… Hana sdh kelas 3 SD, Danish juga udah naik TK Senior… dan saya? Udah nambah tua satu tahun tentunya hehehe…

So many things happened in the last 1 year. Kembali ke kota asal dan memulai hidup baru bertiga sama anak2 menjadi episode baru yang penuh warna warni. Suami masih disana karena butuh proses yg ga singkat buat PNS ngurus kepindahan. Yang ada istri ikut suami, nah klo suami ikut istri ga bisa jadi alasan kepindahahan haha… Hal ini sdh menjadi pertimbangan sebelumnya, jadi kami terima kondisi ini sebagai konsekuensi dari pilihan. Tapi Alhamdulillah, suami mengunjungi kami lebih sering dari yg kami prediksi sebelumnya plus komunikasi yg intensive via telepon, membuat kami ber3 tidak merasa kehilangan sosok beliau. Dan kepindahan ini juga membuat kami dekat kembali dengan keluarga besar setelah hampir 10 tahun kami terdampar jauh karena pekerjaan… Menjadi hiburan tersendiri berkumpul kembali dengan orang tua, saudara2, dan keluarga besar juga teman2 jaman sekolah dan kuliah yang ketemuannya sengaja ato ga sengaja 🙂

Setahun ini juga menjadi proses pendewasaan buat saya dan juga anak2. Awal2 pindahan, interaksi dengan anak selalu menjadi ajang yg menguras emosi dan stok kesabaran, dan errr.. sampai sekarang sih to be honest. Ternyata emang enakan ngantor daripada ngurus anak dan rumah *hush takut kualat. Mulai dari riuhnya pagi hari, urusan sepele mainan yg ga pernah diberesin, dan lain2 sampai pertengkaran kecil antar saudara. Selain itu, terbiasa dengan asisten sekian lama, membuat saya dan anak2 “manja” dan “tau beres”. Kaget plus capek saat semua urusan domestic dan luar mesti di kerjakan sendiri. Belum lagi anak2 yg msh serba dilayani. Pengennnya bs spt boboi boy yg bisa jadi 3 hehehe. Lebay yah, but it’s true… Hari demi hari saya belajar me-menage segala hal urusan anak dan rumah, dan melakukan semua dengan happy… Klo sempet dikerjain, klo ga ya ntaranlah… ga ngoyo deh klo urusan beberes rumah. Anak2 juga udah belajar “ngurusin diri sendiri” dan mendapat tugas ringan, minimal beresin mainan. Tapi kami msh beradaptasi dengan perubahan2 ini, masih berproses, anak2 ini yg msh susah move on nya. Percaya ga, udah setahun berlalu, anak2 ini msh menolak mandi klo ga pake air anget. Kebiasaan sejak orok soalnya… Daripada tiap pagi tarik2an urat leher, saya ngalah deh… kerjaan ngerebus air menjadi to do list di pagi hari…

IMG_1763

Klo dirunut2, rempong pertama kali adalah urusan pindahan… Dan ada yg sampe saat ini belum kelar dilakukan, sejak pindahan sampe sekarang gitu2 ajah… yaitu unpacking barang2 pindahan kemarin. 1 kamar yang harusnya menjadi kamar tidur si bontot menjadi gudang sementara berisi kardus2 karena ga tau barang2 itu mo ditaro dimana hahaha…

Rempong kedua adalah renovasi rumah. Urusan renov merenov ini jd hal yg bothering sangat diawal2 kepindahan kami. Gimana ga, kalo renovasi dilakukan saat kami sdh menempati rumah itu, dengan kondisi rumah dipenuhi barang barang2 pindahan yg berkardus2 hanya menyisakan lorong sempit untuk masuk ke kamar. Saya sendiri menolak untuk ngontrak rumah sementara renovasi berlangsung dengan alasan pindah2an lagi nanti repot. So diterima saja kondisinya. Emang sih penambahan hanya dilakukan di bagian belakang rumah dan penambahan minor didepan dengan menutup teras, tapi tetep ajah rasanya ga punya hidup normal selama proses renovasi berlangsung. Alhamdulillah rumah mertua yg dekat banget sama rumah menjadi pelarian kami, khususnya kalau lagi lapar hahaha..Otomatis rumah hanya berpenghuni di malam hari. Sementara pajang foto before after dulu yak, completion 95% menyisakan tembok pagar yg msh polos 🙂 Tentang renovasi ini akan saya bahas di satu postingan terpisah deh… hehehe…

img-20140317-01718

Rempong ketiga adalah tentang motherhood dan urusan rumah tangga. Seperti yg udah diceritain diatas, ngurus rumah ngalah2in kerjaan kantor. So jangan pernah remehin ibu rumah tangga ya.. apalagi IRT yg juga ngantor hehehe… and I “almost” give up… skrg lagi proses mencari asisten rumah tangga.. Doakan ya semoga bisa dapet. Eneg jg lihat rumah yg berantakan dan cucian yg menggunung. Biarpun seringan pake jasa laundry, tetep ajah cucian menggunung merusak pemandangan. Dalam sehari, 2 anak ini “mengkonsumsi” 3 pasang baju di sekolah plus baju tidur belum dalamannya. So dalam hitungan 3 hari ajah cucian udah numpuk lagi. Curcol ga mutu ya hahahaha… tapi ini juga bukan dalam rangka ngeluh, insyaaAllah semua dijalanin dengan happy

Dan seterusnya, masih banyak lagi hal2 yg saya review dalam setahun ini, misalnya parenting matter, financial planning, business improvement, and many more. Namun karena sifatnya private dan trendnya flat saja, biarlah menjadi catatan tersendiri dulu. Jelasnya, u/ satu tahun kedepan saya memulai lagi dengan menyusun rencana2 baru untuk di eksekusi 🙂

So, menjawab judul postingan ini, Nyesel ga Resign? Saya jawab TIDAK. Indeed, I financially lose but I gain in other aspects. Prinsip saya, tidak ada yg melebihi 100%. Kita dapat lebih disana, disini yg berkurang. Sebaliknya, kita melepaskan yg ini, akan dapat dari yg lain. Semua kembali ke niat, cara kita melihat, menyikapi dan mensyukuri.

Last but not least, harapan saya ,semoga jalan kami kedepan semakin mendekatkan diri kepada-NYA, kepada anak-anak bahwa mereka benar2 bisa merasakan kehadiran ibunya, membawa hal-hal positif dalam kehidupan mereka  dan kelak memaknai semua perjalanan yg telah kami lalui bersama dan kami menjadi golongan orang2 yg selalu bersyukur.. Amin…

Resignation in Progress

image

Ditengah2 padatnya kerjaan (sampe plg dirumahpun msh kerja), saya masih sempet2nya blogging dikantor… Hadduhhh… Mungkin efek jenuh dan butuh selingan sejenak… *membeladiri.com

Obviously, i got something important to be shared (baca: curcol) hihihihi… dan apakah itu? Tentu saja berhubungan dg judul postingan ini 🙂

Setelah maju mundur buat menghadap ke Big Boss sejak sebulan lalu, setelah menentukan tanggal terbaik untuk efektif resign, finally kemarin saya “nekat” menghadap beliau dengan membawa map kuning berisi surat permohonan resign. Nekat dalam artian saya ga pake konsep2 mau ngomong apa sama Big Boss. Pokoknya niatnya harus ketemu ajah dulu… Jadilah reaksi saya spontan. Belum apa2 (suer big boss belum ngomong apa2) sy udah mewek, ga lama nih airmata ga bisa ditahan lagi mengalir kayak sungai aissshhhh….memalukan. Belum lagi spontanitas saya dalam menjawab pertanyaan2 dari beliau, yg ga penting pun keluar dari mulut hahaha… Klo saya yg berada diposisi beliau saat itu mungkin akan kebingungan, apa2an nih anak dtg nangis ke tempat gw huwakakakakak… *menertawai diri sendiri

Tapi Alhamdulillah legaaaaaa… rasanya seperti membuang beban berat setelah penantian yg rasanya seperti nungguin bisul pecah hihihihi… Dan akhir pertemuan, Big Boss belum menandatangani surat resign saya.. Katanya disimpan dulu, mau bicara dulu sama suami saya… Ya Allah, sama sekali tdk pernah terpikirkan reaksi beliau seperti itu. Bayangan saya sama sekali berbeda dg yg terjadi.

Di satu sisi, saya sedikit senang tdk langsung di approve, artinya kehadiran saya dikantor ini “cukup” dibutuhkan (ga mau kegeeran). Tapi di sisi yang lain, saya pengen cepat2 ajah urusan ini selesai, biar bisa move on.

 

Quote from Mark Twain:

“Twenty years from now, you will be more dissapointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from safe harbor. Catch the trade winds in your sails. EXPLORE. DREAM. DISCOVER.”

And i don’t to be the one who regret by not taking control of my life NOW!

Semoga Allah membuat sy lbh tangguh dan memudahkan urusan kedepannya.. Menjadika  saya manusia yg lebih baik Aminnn…

Belajar Investasi Reksadana #2 (Reksadana Vs Menabung)

Setelah sebelumnya belajar membuat financial planning disini  dan belajar lagi khususnya reksadana dari beberapa sumber diinternet dan dirangkum di tulisan Belajar Investasi Reksadana #1  dan membandingkan Investasi Reksadana Vs Emas, Menguntungkan mana?  saya mulai belajar dari buku yg didapatkan by accident karena sebenarnya waktu itu saya lagi nyari2 buku nya mba Ligwina (lupa judulnya) tapi sayangnya udah sold out di Gramedia.

Muter muter lagi, akhirnya bertemu dengan buku mba Prita Ghozie berjudul “MAKE IT HAPPEN! – Buku Pintar Rencana Keuangan untuk Wujudkan Mimpi”. Sounds delicious yak hihihi… Sebandinglah aku pikir sbg gantinya buku mba Ligwina. Nah… kebetulan  pas banget ketemu lagi sama buku kuning lainnya berjudul “Menjadi Kaya dan Terencana dengan Reksadana”. Buka-buka bukunya, kayaknya boljug hehehe… Authornya seorang anak muda named Albert Wijaya, yg trial dan error dalam berinvestasi dan menemukan key dalam berinvestasi reksadana yg ditulis dalam buku ini (CMIIW). Akhirnya 2 buku kuning ini masuk ke kantong belanjaan dan dibawa pulang 😉

IMG_3145

These two yellow books become my straight to the point guidances on financial planning n investing on reksadana.

Satu persatu bukunya dibaca, tapi jgn nanya apa isinya yak, udah lupa hahahaha… Klo ada yg request boleh lah nanti saya buatkan books review (project di blog ini yg belum terlaksana).

Intinya memang harus kudu wajib berinvestasi di reksadana, dalam rangka diversifikasi aset (kayaknya asetnya ada segunung ajah hehehe… maksud saya ingat prinsip dalam berinvestasi, don’t put your eggs in one basket) dan karena sebenarnya sangat mudah berinvestasi di reksadana dan sangat terjangkau (This is the point!). Memulainya ajah yg susah 😉

Lanjut cerita, dibuku ke-2 tersebut, bagi yg menginginkan kemudahan dalam investasi reksadana secara reguler dan terjangkau, direkomendasikan membuka account di Commonwealth Bank, karena di Bank inilah (dan mungkin baru Bank ini saja. Kalau ada yg punya info bank lain, di share ya) yang katanya supermarket reksadana (menyediakan pilihan reksadana-reksadana dari berbagai penyedia, apa ya istilahnya? lupa Manajer Investasi semisal Schroder, Danareksa, Sinar Mas, dan buanyak lagi) dan memberikan layanan auto debit untuk pembelian produk reksadana mulai dari 100rb/bulan. Huwaaa.. menarik khaannn…

Sebenarnya ada “sesuatu” di buku kedua ini yang “menggugah”. Author, Mas ALbert memberikan ilustrasi berinvestasi selama 10 tahun dengan hanya 100rb per bulan plus tambahan 500rb per tahun, memberikan return yg wow. Hanya saya ga masukkan disini soalnya saya g nemu hitungannya. Jadi sebagai gantinya saya buatkan ilustrasi sendiri dalam perbandingan Investasi Reksadana Vs Menabung. Sebelumnya sdh pernah ada tulisan yang membandingkan Investasi Reksadana Vs Emas, Menguntungkan mana? 

Hitungan dibawah tdk memasukkan biaya beli/jual reksadana, juga komponen bunga, pajak, dan biaya administrasi bank ya. Karena klo dihitung2, equal to zero CMIIW. Jadi anggap ajah nabungnya nabung di bawah bantal hehehe…

Untuk menghitung return investasi Reksadana (saya pilih SAHAM) kita gunakan kalkulator investasi disini http://www.trimegah-am.com/investment-calculator. Canggih nih, kita bisa punya banyak pilihan cara menghitung nilai yg harus di investasikan (tahunan atau bulanan) untuk mencapai nilai tertentu ATAU sebaliknya, bila berinvestasi dg nilai sekian.

 Untuk ilustrasi pertama, kita akan menghitung return bila berinvestasi secara teratur perbulan. Jadi cukup masukkan Jumlah investasi awal, investasi bulanan, periode investasi, dan memilih jenis reksadana Saham dengan asumsi return 15% per tahun. Dibawah ini adalah hasilnya.Kalkulator Investasi nilai akhir

Contoh diatas kita masukkan investasi bulanan 1juta selama 10 tahun akan memberikan return sebesar 283juta. Besarkah nilai tersebut? Mari kita hitung bila uang tersebut di tabung sajah..

Investasi awal 1jt + (1jt x 12 bulan x 10 tahun) = totalnya 121jt.

 Reksadana Vs Menabung >> 283jt vs 120jt kelihatan kan bedanya 🙂

Yang namanya investasi, semakin lama semakin berkembang 🙂 Jadi saya mencoba membuat lagi simulasi dengan waktu yang lebih lama. Dibawah ini sdh saya rangkum dalam bentuk tabel untuk memudahkan, dg asumsi return 15%/tahun

Perbandingan tahunan

Naahhh… kelihatan jelaskan bedanya antara investasi reksadana vs nabung, juga perbedaan waktu investasi akan membuat return semakin tinggi.

Anda juga bisa membaca tabel diatas dengan cara berbeda. Nilai Akhir Tabungan adalah pokok Investasi Anda, dan selisih adalah pengembangan dana pokok investasi Anda. Jadi dalam jangka waktu 10 tahun, pengembangan pokok investasi Anda adalah sebesar 133%. Jadi bila dicairkan, Anda akan menerima 283jt. Semoga jelas ya..

Tetap ingat aturan emas dalam berinvestasi, “High Risk, High Return Long Term”. Sehingga bila Anda tdk siap dengan resikonya, pilih jenis reksadana lain, misalnya campuran, pendapatan tetap, atau pasar uang. Tentu saja returnnya lbh rendah, namun lbh aman (baca: tdk fluktuatif) bila anda ingin berinvestasi dg waktu yang lebih pendek.

Kalo tabungan pastinya sih akan kegerus nilai  inflasi tahunan sekitar 8% pertahun. Jadi dari tabel diatas, nila 181jt setelah menabung 15 tahun nilainya akan sangat kecil. Sementara dengan investasi Reksadana, nilainya hampir 4x lipat, paling ga nilai uang kita ga turun.  

Disclaimer: Ini sekedar ilustrasi, nilai investasi akhir bisa lebih banyak atau lebih sedikit, dan ilustrasi ini tdk dimaksudkan untuk anda mengambil keputusan dalam berinvestasi karena saya tidak mau bertanggungjawab thd resiko di kemudian hari hehehe…

Apa ada kemungkinan nilainya lbh kecil atau malah lebih besar? PASTI. krn ilustrasi ini berasumsi return 15% per tahun, sementara ada beberapa reksadana yg mempunyai return lbh besar dalam jangka waktu yg lebih lama. Bahkan ada yg diatas 200% dalam 5 tahun tapi bisa mempunyai return (-) minus dalam 1-3 tahun sehingga reksadana saham mmg ditujukan untuk investasi jangka panjang ya.. Return akan sangat bergantung dari jenis reksadana apa yg Anda pilih. Nanti bisa dilihat dan dipelajari di prospektus Reksadana yg bersangkutan. Anda juga harus mengetahui cara2 memilih reksadana yang “baik”.

Bagaimana dengan saya? Apakah sdh mulai investasi reksadana?

Yup, exactly the same way what i have learned. Nanti saya akan lanjut dengan pengalaman saya membuka account di Commonwealth Bank, dan cara-cara memilih reksadana.

Artikel : Jadi Ibu Rumah Tangga atau Tetap Bekerja

Banyak perempuan yang tinggal di kota besar menunjukkan eksistensi dirinya melalui karir profesional. Pendapatan pribadi yang diterima setiap bulan merupakan bentuk kebanggaan sekaligus identitas sebagai individu yang mandiri. Namun hal ini sering berbenturan dengan peran lain ketika perempuan terikat dalam institusi pernikahan. Kewajiban pun berlipat ganda. Terlebih jika sudah memiliki keturunan. Tak sedikit perempuan mengaku mengalami dilema ketika dihadapkan kepada dua pilihan besar, yakni mengabdi sebagai istri dan ibu di dalam rumah, atau tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Prof. Dr. Ayub Sani Ibrahim SpKJ (K), penasihat Parents Indonesia, mengatakan, ada empat alasan paling utama saat seorang perempuan akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja. “Pertama adalah jumlah anak. Semakin banyak anak, biasanya kemungkinan si ibu berhenti bekerja menjadi semakin besar. Kedua adalah tidak ada pengasuh atau orang yang bisa dimintai tolong untuk mengasuh si anak. Ketiga adalah permintaan suami, dan terakhir adanya dukungan keuangan yang cukup, yaitu dari pihak suami.”

Vira, 31 tahun, adalah salah satu contoh perempuan yang memilih untuk mengorbankan identitas profesionalnya di kantor demi turun tangan langsung dalam pengasuhan anak. “Saya sempat bekerja 8 tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti total. Saat itu, putra pertama saya sudah berusia 2,5 tahun dan mulai masuk playgroup. Kami tidak punya pengasuh. Selain itu, suami pun minta diurusi. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti.”

Tentunya tidak sedikit perempuan seperti Vira yang bersedia berkorban demi memenuhi tugas mulia sebagai seorang ibu. Tapi keputusan ini tetaplah tidak mudah. Ketika seorang perempuan bekerja yang telah berumah tangga memutuskan berhenti berkarir, itu berarti ada pendapatan dalam rumah tangga yang hilang. Selain itu, dibutuhkan kesiapan mental dalam menghadapi transisi besar, yakni dari lingkup dunia kerja menjadi dunia rumah tangga.

 

Sudah Mantapkah Mental Anda?

Pada kenyataannya, tidaklah mudah bagi seorang perempuan yang telah lama bekerja untuk begitu saja menjadi ibu rumah tangga. Patut diakui, lingkup dunia rumah tangga jauh lebih sempit dibandingkan lingkup dunia profesional. Di dunia kerja, seseorang dimungkinkan untuk berinteraksi dengan begitu banyak orang dengan beragam latar belakang. Sementara dunia rumah tangga tidaklah demikian. Si ibu umumnya hanya berinteraksi dengan anak, asisten rumah tangga, atau tetangga.

“Seorang ibu bekerja yang akan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga bisa diibaratkan seperti orang yang nanar. Maksudnya, jika mentalnya tidak benar-benar siap, dia bisa bingung, frustasi. Sudah seperti orang yang mau pingsan saja,” kata Ayub.

Ketika seorang perempuan bekerja memutuskan untuk total menjadi ibu rumah tangga, maka dia akan menghadapi suatu perubahan drastis dalam hidup. “Ruang publiknya saja sudah berbeda. Belum lagi merasa sendirian di rumah, ditinggal suami, sementara dia harus menghadapi anak. Selain itu, tanggung jawabnya juga menjadi jauh lebih berat karena harus mengurus suami dan anak sekaligus,” Ayub menambahkan.

Vira termasuk sebagai orang yang sempat stres dengan transisi ini. “Saat itu anak saya masih kecil. Ditambah lagi pembantu saya tiba-tiba memutuskan untuk berhenti. Mau tidak mau saya harus mengurus semua. Rambut saya sampai rontok karena stres,” keluhnya.

Sisi keuangan juga menjadi pertimbangan vital sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja. “Saya selalu menyarankan, apabila penghasilan ibu menutup 50 persen kebutuhan keluarga, sebaiknya pertimbangkan lagi masak-masak mengenai keputusan untuk keluar dari kantor,” kata Rina N. Sandy RFA, penasihat keuangan dari Sarosa Consulting Group. Jika kebutuhan keluarga ditutupi pihak ayah dan ibu dengan perbandingan sama rata (50:50), maka sudah dipastikan bahwa penghasilan berkurang setengah jika si ibu berhenti bekerja. “Jika memang ingin tetap berhenti, sebaiknya si ibu mencari penghasilan tambahan.” Lebih jauh Rina mengatakan bahwa posisi keuangan keluarga akan aman jika penghasilan si istri hanya sepertiga atau bahkan seperempat dari penghasilan suami.

Pengaruh Terhadap Anak

Mungkin Anda pernah mendengar tentang suatu pendapat yang menyebutkan bahwa anak yang kedua orang tuanya bekerja akan tumbuh menjadi sosok yang lebih mandiri dibandingkan dengan yang tidak. Tanpa bermaksud untuk membantah pendapat ini, Ayub mengingatkan bahwa meskipun hal ini benar, tapi tidaklah menjadi jaminan.

Dalam beberapa kasus, memang ada anak yang menjadi mandiri karena ibunya bekerja. Tapi kemandirian yang dia capai berasal dari suatu proses trial and error. “Sesungguhnya, si anak limbung karena ibu yang menjadi tempat dia bergantung hanya punya sedikit waktu untuk berinteraksi dengannya. Akhirnya, si anak belajar dari pengalamannya sendiri dan lambat laun menjadi mandiri,” begitu penjelasan Ayub.

Sementara itu, anak yang diasuh oleh ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga juga belum tentu menjadi sosok yang manja. Ayub dengan bangga mencontohkan kesuksesan ketiga putrinya yang diasuh penuh oleh istrinya yang seorang ibu rumah tangga total. “Pada dasarnya, orang yang mengendalikan rumah tangga adalah perempuan, bukan laki-laki. Mandiri tidaknya seorang anak lebih dipengaruhi oleh bagaimana si ibu menjalankan perannya, dan ini tidak ada hubungannya dengan profesi, entah itu di kantor, atau sebagai ibu,” Ayub menegaskan.

Sama-sama Menguntungkan

Dihadapkan pada dua pilihan besar memang tidaklah menyenangkan. Terlebih ketika kedua pilihan tersebut dirasakan sama-sama signifikan, baik untuk Anda, maupun masa depan keluarga. Pada dasarnya, masing-masing pilihan tentu memiliki sisi plus minus dan tidak berefek sama pada kasus per kasus. Semua kembali kepada situasi dan kondisi Anda maupun rumah tangga yang sedang dijalani. Namun yang perlu diingat, kedua pilihan ini sama-sama memiliki keuntungan.

Ibu bekerja yang memutuskan untuk berhenti mungkin akan cemas dengan lingkup pergaulannya kelak, atau juga dengan laju inflasi yang terkadang tak bisa diprediksi. Tetapi tengoklah keuntungan besar yang bisa Anda raih apabila menjadi ibu rumah tangga. Dengan mengasuh anak tanpa bantuan orang lain, Anda punya kendali besar dalam tumbuh kembang anak hingga dia dewasa nanti. Andalah yang akan mentransfer ilmu berupa pendidikan usia dini, penanaman nilai yang dianut keluarga serta kematangan emosional ke diri anak.

Jika khawatir dengan lingkungan pergaulan yang menyempit, tetaplah tenang dan optimistis. Karena pada dasarnya, lingkungan pergaulan bisa dicari atau dibentuk sendiri. Beberapa cara yang dapat Anda lakukan adalah:

  • Pertahankan teman-teman lama. Jika perlu, luangkan waktu sekali seminggu atau sekali dua minggu untuk bertemu dengan mereka.
  • Bergabung dengan kelompok-kelompok tertentu. Di zaman modern sekarang, tidaklah sulit untuk mencari klub atau kelompok berdasarkan hobi tertentu. Carilah klub tersebut melalui internet lalu bergabunglah di mailing list mereka. Atau, Anda juga bisa sedikit menyibukkan diri dengan aktif di sekolah, lingkungan tempat tinggal, ataupun kegiatan sosial yang umumnya diselenggarakan di rumah-rumah ibadah.
  • Mencari pekerjaan tambahan. Pada dasarnya, ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Menerjemahkan buku, membuat transkrip, menjahit, membuka catering, bergabung dengan MLM hanyalah sejumlah kecil pekerjaan yang bisa dilakukan seorang ibu rumah tangga. Dengan demikian, Anda tetap bisa berkarya dan memunyai penghasilan sendiri.

Sementara ibu yang tetap bekerja umumnya khawatir dengan perkembangan anaknya kelak, terlebih karena dia memiliki waktu yang lebih sedikit untuk berinteraksi dengan sang buah hati. Memang menyewa babysitter adalah hal yang paling mudah. Tapi itu tetap bukan satu-satunya pilihan. Karena Anda bisa memercayakan tumbuh kembang anak dengan:

  • Melibatkan keluarga. “Entah itu orang tua sendiri, saudara kandung, ipar, ataupun mertua, yang pasti tidak perlu ragu untuk meminta bantuan keluarga,” saran Diba, 34 tahun, seorang ibu rumah tangga. Ibu dari seorang putra berusia 4,5 tahun ini memberi alasan bahwa keluarga adalah pihak yang lebih bisa dipercaya dalam hal pengasuhan anak, bahkan lebih dari babysitter.
  • Menitipkan ke daycare. Daycare bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan, khususnya bagi orang tua bekerja. Karena di daycare, anak tidak hanya disediakan tempat beristirahat maupun makan, tapi juga aktivitas lain seperti bermain ataupun belajar seni dan olahraga. Carilah daycare yang tempatnya strategis dan mudah dijangkau, baik dari arah rumah ataupun dari kantor Anda.

Source: http://www.historyfive.com/karir/jadi-ibu-rumah-tangga-atau-tetap-bekerja/

Renovasi Rumah [Perencanaan #2] – Rumah Nuri

 Rumah Nuri,  begitu kami menyebutnya. Karena rumah ini ada di jalan Nuri 🙂 Penamaan ini juga untuk membedakan antara rumah2 orang tua/mertua/sodara yg sering kami kunjungi. Sebut saja, Tarakan, Bonto2a, Pallangga, Sudiang, begitu kami menyebut rumah2 tersebut bila ditanyakan akan kemana 🙂

Mungkin penasaran (atau tidak hihihi) seperti apa penampakan rumah yg ingin sekali saya renovasi  ituuuu… *jgn bayangkan rumah mewah yak hihihi…

Rumah ini kecil imut (agar terkesan unyu unyu hihihi) dan tidak terawat (to be honest). Ga ada yang nempatin soalnya. Syukur2 PLN plus PAM ga dicabut karena mertua yg rajin bayarin tiap bulan 😉 Terimakasih Dato’

Taraaa… ini dia penampakannya..

 IMG-20140317-01718 IMG-20140317-01719

IMG-20140317-01720

*Itu suami saya yg lagi nutup pintu 🙂 moto rumah atau moto suami yak hihihi…

“Hanya” seluas 60/100 m2 dg 2 kamar yg tdk besar dg 1 kamar mandi, 1 ruang keluarga, 1 ruang tamu yg menurutku kebesaran untuk rumah se imut ini. Dapur yg letaknya dibelakang rumah juga belum di buat dapur, hanya teras kosong. Sedikit halaman kosong di depan dan di belakang. That’s all

Jadi untuk mengkomodasi 4 orang anggota keluarga, dg 2 anak yg berjenis kelamin laki2 dan perempuan, perlu kiranya kami menambahkan 1 kamar lagi, dan dapur buat emaknya. Karena tanahnya udah mefet kiri kanan, pilihan satu2nya adalah di bangun keatas hehe…

Mempertimbangkan budget, dan sayang banget membongkar keseluruhan rumah, kami memutuskan untuk meningkat satu sisi dari rumah Nuri tersebut. Pusing bok mikirin desain yg cocok. berbulan2 dipikirkan finally ketemu juga desain yg cocok di hati dan di setujui oleh suami. Ini murni hasil pikiran saya loh ya… suami cuma nyumbang usul pindahin pintu kamar hihihi…

Dg hasil gambar saya yg amatiran dan dilakukan di excel, spt inilah “kira-kira” denah rumah awal dan pengembangannya.. Puas rasanya bisa nemuin desain inihhh.. ga ngerubah banyak dengan harapan budgetnya juga ga banyak-banyak… pan mau beli mobil baru juga hahaha…

Knapa ga diserahin ke arsitek ajah semua? pertama karena yg mau nempatin ya kami, jd plg ga kami yg nentuin peletakan ruangannya. Ntar si arsitek nggambar dg ukuran sebenarnya hehe..

Rumah Nuri

Perubahan pertama pada R.Tamu yg “dipotong” buat dijadiin walk in closet (gaya banget yak). KM tetap dan kami jadikan KM di dalam kamar utama. Walopun harus bongkar dinding, tapi ga perlu bongkar2 kamar mandi dan artinya meng-hemat hehehe…

Sisi kanan di bongkar habis dan kami desain ulang. Dinding depan garasi kami mundurkan karena garasi yg skrg mepet bgt panjangnya buat mobil avanza/xenia kami. Dan kami buat segaris tanpa sekat untuk ruang keluarga, dapur+ruang makan. Dibelakang kami sisakan space untuk taman. Ini impian gue bangett 🙂 Ini penting buat sirkulasi udara biar ga ngandelin AC yg boros listrik dan go green 😉 Ntar rencananya mau nanem sayur2an organik hihihi.. klo bisa ntar ada kolam2 kecil gt dg pancurannya biar ada back sound gemericik gituh 🙂

Oiyah, karena suami ngotot harus ada kamar ART (walopun saya ga berencana punya ART pasca resign), jadi saya akomodasi di belakang plus kamar mandi dan ruang cuci2.

Jadi di bawah hanya ada 1 kamar. Kamar anak kami tempatkan keduanya di lt.2 plus kamar mandi di tiap kamar. Total ada 4 kamar mandi. Boros banget yah.. tapi mempertimbangkan anak kami laki2 dan perempuan, jd kamar mandi kami tempatkan didalam kamar. Diatas jg ada tempat buat jemur2 diatas kamar ART. Plus msh ada space di depan tangga. Bisa buat tempat sholat jamaah, atau tempat mini library. Ini salah satu impianku juga 🙂

Dari mana semua ini? dari hasil googling… Buanyak banget yg akudapatkan disana… beberapa aku pilih sbg gambaran interior nanti..

Inspirasi dapur dan space di belakang rumah

02 (01)_ Lantai 1 - Ruang Makan dan Ruang Dapur

03 (01)_ Lantai 1 - Sisi Belakang

Source : http://bintarojaya-youham.blogspot.com/2010_06_01_archive.html

Apr4-JCO-b

Source : http://sewarumahdijual.wordpress.com/2013/03/11/tips-rumah-berbagai-teknik-memasang-nat-keramik/

 And for the living room, tangganya akan mirip2 kayak gini deh…

dsc_0228

dsc_0226

Source : http://bondanprihastomo.wordpress.com/architectural-design-project/mrs-liza-anindyas-house-cibubur/

Cakep2 khan…Masih banyak sih contekanku.. ntar kapan2 aku share lg yak…

to be continued…

Renovasi Rumah [Perencanaan]

Not yet… Renovasi rumah kecilku ini belum berlangsung… Masih tahap perencanaan yg panjaaaannggg…. sampe aku gregetan sendiri… Dipikiriinnn sampe hampir stress rasanya… Karena renovasi rumah ini adalah part of my resignation plan. Dan persoalan renovasi rumah ini yg sempat menghambat resignku sampai hari ini saya msh sukses belum resign 😥 

Pasalnya, pasca resign kami harus angkat kaki dari rumah perusahaan, meninggalkan kota di pelosok yg damai nan indah bernama Sorowako dan kembali ke Makassar, kota kelahiranku dan tempat tinggal orang tuaku. Tentu saja kami harus punya tempat tinggal yang layak (baca: nyaman untuk 2 anak2ku), sementara rumah ini belum bisa dibilang layak karena belum ada dapurnya. Another complain from the kids, karena ga ada ruang nonton katanya hahahaha…. 😀 

Beberapa tahun lalu, kami membeli rumah ini via KPR di Bank A, sebutlah seperti itu. Lokasi rumah ini sebenarnya bukan di Makassar tapi di Kota Sungguminasa, Kab. Gowa. Sebuah cluster ditengah kota yang hanya berisikan krg lebih 20 rumah (belum pernah hitung soalnya). Kenaikan harga tanah dan perumahan di Makassar sangat bombastis membuat kami (waktu itu) belum mampu mengjangkaunya. Sehingga rumah ini menjadi pilihan kami karena harganya masih reasonanble. Selain itu lokasinya dekat bahkan sangat dekat dengan rumah mertua, dan masih berdekatan dengan rumah2 saudara dan sanak saudara suami. If you are a working Mom, you know the advantages of living near to family. Paling ga klo kepepet, msh bisa nitipin anak ke mertua atau saudara hihihihi…

Karena kami tinggal di sorowako, jadi rumah ini hanya kami tempati kalo lagi cuti atau mampir bentar di Makassar. Jadi kondisinya kurang terawat dg semak belukar di halaman. Perabot hanya ada kursi meja tamu, tempat tidur di kedua kamar, dan AC di kamar utama. Mayanlah ga perlu nginap di hotel lagi klo di makassar. Dan kami punya sesuatu yang bisa disebut rumah 🙂

Berbagi sedikit ttg perjalanan rumah dan KPR ini. Jaman dulu, kami benar2 blum bisa ngumpulin DP buat membeli rumah. Nyicil sih mampu banget *ngakunya, tapi entah kenapa yg namanya duit g bisa ngumpul ditabungan, mungkin karena gaya hidup kami yg terlalu boros atau lainnya hihihi… Berbekal dana yg tidak seberapa, kami pede melakukan survey kebeberapa kompleks perumahan. Sasaran kami awalnya di area Hertasning, daerah elit baru di Makassar yg dulu msh berkembang. Mungkin karena kami yg ga punya duit, harga perumahan disana rasanya mahal dan g sebanding dengan luasannya. Kalau tanya skrg, harga perumahan disana udah naik buanyakkkk… rada nyesel juga knapa ga dipaksain ambil disana 😉 lanjut cerita, kebetulan ada perumahan baru di dekat rumah mertua. Setelah survey, kami rasanya udah berjodoh dg rumah ini. Harganya waktu itu Rp.275jt dengan luasan 60m2. Ditambah lagi kami tidak perlu merogoh kantong untuk DP. Bank approve KPR kami senilai Rp.280jt. Alhamdulillahhh… beneran jodoh…

Oiyah, KPR ini kami ambil yang terlama selama 15 tahun. Selama krg lebih 3 thn nyicil KPR, kami mulai membandingkan dg KPR di bank lain, dan ternyata KPR di bank lain dg nilai yang sama, cicilannya bs lebih murah Rp.1jt. Wuihhh lumayan ya bok… mulailah kami berfikir untuk menutup sebagian dari kredit kami untuk mengurangi cicilannya. Tapi dananya waktu itu kami putar dulu di bisnis teman. Sempat juga kami berfikir untuk take over kredit ke bank lain, tapi terkendala krn kami di daerah dan harus ke Makassar untuk pengurusan bank. Baru setahunnya kemudian, kami merealisasikan pelunasan sebagian dari Pokok pinjaman. Kenapa ga langsung kami lunasin?

Setelah Bank memberikan hitungan sisa kredit, kami (saya dan suami) sempat seperti tercekik. Gmn enggak klo selama 4 tahun, pokok hutang kami hanya berkurang sekitar 40jt an.. Jadi masih tersisa sekitar 250jt an. Whattt.. 4 tahun nyicil sekitar 3,5jt an, dg total 120jt an, hanya 33% buat bayar pokok dan selebihnya bunga? Shock… Saya sempat nanya (atau protes lbh tepatnya) kenapa sih KPRnya kek gini, merugikan nasabah. Mungkin krn udah biasa menangani nasabah komplain, dg muka lempeng tanpa ekspresi si mba CS hanya bilang, ntar di tahun ke 7 baru terasa pengurangan di pokoknya. Whattt… Walhasil dg 200jt an ditangan, kami masih menyisakan 50jt an di bank tersebut dg cicilan hampir 1jt perbulan selama 11 tahun lagi.

Pelajaran pertama. Bandingkan KPR yg ditawarkan setiap Bank. Tapi pada case ku ini, pihak developer hanya memberikan satu pilihan bank untuk KPR. Hmm.. Smell something bad.

Even kami punya dananya sekarang untuk pelunasan (dan memang iyah), kami belum bisa melakukan pelunasan keseluruhan. Why so? Ternyata oh ternyata, sertifikat rumah tersebut belum di pecah. Jadi yg dipegang bank adalah sertifikat induk tanah yg meliputi keseluruhan rumah di kompleks tersebut. Sedangkan kami pemilik belum punya sertifikat atas rumah tersebut. Kog bisa yah bank juga nerima ketidakjelasan seperti itu… Dari pada bernegatif thinking, ga usah dipikirin. Yang pastinya, kami complain ke developer dan notaris yang menangani, namun sampe skrg msh janji-janji.

Pelajaran kedua. Pilih developer yg bonafid, atau perjelas semua persuratan rumah sebelum bertransaksi. Let me say developerku ini developer kacangan.

Ok, back to masalah renovasi rumah… emang masalah? iyaaahhh… karena sampai skrg belum dapet arsitek buat menggambar rencana renovasi kami dan ini menjadi mandatory ketika calon pemborong yg kami hubungi mensyaratkan gambar ini sebelum dia bisa mulai bekerja. Kandidat sdh ada beberapa malah, hanya kendala kami tinggal didaerah sehingga pertemuan tak kunjung terjadi.

Sempat ada arsitek rekomendasi tetangga, udah deal juga masalah harga, tapi dia tidak memberikan gambar lengkap termasuk RAB. Padahal RAB ini yg sangat saya butuhkan untuk menghitung luasan pengembangan rumah. Katanya hitung ajah 2,5jt per m2. Jadi mentah lagi. Tapi saya bersyukur ga jadi, krn urusan gambar menggambar rumah tidak sesederhan yg saya pikirkan. Baru2 ada rekomendasi dari teman suami, dan belajar dari arsitek yg pertama, saya mencari tahu gambar apa saja yg dibutuhkan untuk mulai membangun atau merenovasi rumah.

Alhamdulillah nemu sites www.bangunrumahelegan.com dan www.yahomey.com , saya jadi lbh paham what to do dengan arsitek berikutnya.

Dari www.yahomey.com saya copas aja yah ttg gambar2 yang dibutuhkan untuk pembangunan rumah.

A. Gambar denah
untuk menentukan penataan ruang yang ideal (foyer, ruang tamu, ruang keluarga, ruang kerja, ruang makan, taman, kolam, garasi, dsb)


Contoh gambar denah tipe 36luas lahan 6×12 m2 

B. Gambar tampak
setelah ditentukan gambar denah yang pas maka selanjutnya menginjak pada gambar muka/fasad/tampak rumah.
b.1. Gambar Tampak 2 dimensi


contoh gambar 2d tampak depan

contoh gambar 2d tampak samping
 
b.2. Gambar Tampak 3 dimensi
keuntungan gambar 3 dimensi adalah gambar yang terlihat secara perspektif mendekati wujud asli dari rumah yang akan terbangun.


Contoh gambar tampak 3 dimensi

C. Gambar kerja

Gambar kerja dibagi menjadi 2 :

 

c.1. Gambar kerja IMB

diperuntukkan untuk perijinan IMB (Ijin Mendirikan Bangunan).

 

 

c.2. Gambar kerja bestek

diperuntukkan untuk pedoman dalam pelaksanaan pembangunan rumah. Gambar-gambar tersebut diantaranya adalah: gambar potongan, gambar konstruksi, gambar instalasi listrik, gambar instalasi pipa air. Dengan adanya gambar kerja bestek ini disamping membantu proses kerja para tukang bangunan, kita juga bisa mengetahui lebih detail tentang kebutuhan jumlah ataupun volume dari material bangunan yang kita perlukan untuk rumah yang akan dibangun.
Gambar kerja bestek biasanya diperuntukkan untuk tahap selanjutnya yaitu perhitungan RAB (Rencana Anggaran Biaya) atau RAP (Rencana Anggaran Pelaksanaan).

 

to be continued…